Jika
ada yang menyebut kata "selingkuh", biasanya yang pertama terlintas di
pikiran kita adalah seorang playboy atau sesosok pria yang sering
menyakiti hati wanita. Selingkuh seolah-olah identik dengan perilaku dan
kebiasaan lelaki. Padahal kenyataannya tak begitu.
Baru-baru
ini Manchester Metropolitan University di Inggris melakukan penelitian
tentang perilaku berselingkuh pada wanita dan pria. Hasilnya, 20 persen
pria mengaku pernah berselingkuh dari pasangannya.
Bagaimana
dengan wanita? Ternyata angkanya tak jauh berbeda. Sebanyak 16 persen
wanita di Inggris mengaku pernah tak setia. Tapi sebetulnya pria perlu
lebih berhati-hati menjaga agar pasangannya tak berselingkuh. Penelitian
lainnya tentang perselingkuhan membuktikan bahwa perselingkuhan wanita
ternyata lebih "berbahaya" dibandingkan perselingkuhan pria. Bagaimana
bisa?
Wanita berselingkuh jika hubungannya bermasalah Sebagian
besar pria berselingkuh karena tak dapat menahan nafsu. Bisa saja
hubungannya dengan istri/kekasihnya sebetulnya tak bermasalah. Ia hanya
semata tergoda oleh wanita lain atau dihadapkan pada kesempatan untuk
berselingkuh yang tak dapat ia tolak. Menurut Ruth Houston, penulis buku
"Is He Cheating On You", hanya 20 persen wanita yang berselingkuh
karena nafsu. Sedangkan pada pria, angkanya mencapai 80 persen.
Wanita
justru sebaliknya. Jika hubungannya asmaranya baik-baik saja, ia
biasanya tak akan berselingkuh. Alasan utama wanita berselingkuh adalah
karena ia sebetulnya tak bahagia dengan hubungannya. Alasannya bisa
karena kesepian, seks yang tak memuaskan, atau kebutuhan emosi yang tak
terpenuhi. Intinya ada sesuatu yang tak bisa dipenuhi oleh suami atau
pasangannya itu.
Menurut Helen Fisher, PhD, antropolog biologi
dan penulis buku "Why We Love", 66 persen wanita yang berselingkuh
mengaku tak bahagia dalam pernikahannya. Sedangkan pada pria, angkanya
hanya 44 persen.
Wanita terikat secara emosi pada selingkuhannya Karena
wanita berselingkuh dengan alasan emosional (bahasa kerennya "main
hati"), biasanya akan lebih sulit pula bagi wanita untuk mengakhiri
perselingkuhan tersebut. Tak jarang wanita merasa jatuh cinta pada pria
idaman lain tersebut, bahkan mencintainya lebih dari pasangannya
sendiri.
Ikatan emosional antara wanita dengan selingkuhannya
juga lebih kuat dibandingkan pria dengan selingkuhannya. Sebuah
penelitian membuktikan bahwa perselingkuhan yang dimulai atau diawali
oleh sang wanita biasanya bertahan tiga kali lebih lama dibanding
perselingkuhan yang dimulai oleh laki-laki.
Wanita berselingkuh dengan lebih "serius" Pria
mungkin bisa dengan mudah dan tanpa pikir panjang memutuskan untuk
selingkuh. Tak demikian halnya dengan wanita. Wanita selalu memikirkan
baik-baik apa risikonya jika ia berselingkuh. Jika hubungan terlarang
itu dia anggap hanya buang-buang waktu, atau risikonya tak sepadan
dengan kesenangannya, ia tak akan melanjutkan. Pria dapat berselingkuh
berkali-kali dengan banyak wanita karena baginya itu tak berarti
apa-apa, tapi bagi wanita, jika ia memutuskan untuk selingkuh artinya
pria idaman lain itu istimewa.
Wanita lebih jago menyembunyikan perselingkuhan Wanita
seringkali mengetahui saat pasangannya berselingkuh, tapi tidak
sebaliknya. Selain pria tak memiliki insting mendeteksi kebohongan
seperti wanita, kaum wanita juga lebih piawai menyembunyikan hubungan
terlarangnya. Wanita sudah terlatih untuk berbohong sejak kecil demi
menjaga perasaan orang lain. Hal yang sama tak terjadi pada pria,
sehingga pria biasanya merasa lebih gugup saat berbohong.
Ghiboo.com
- Jika ingin mendapatkan perhatian dari seorang pria bahkan sampai bisa
menjadi kekasihnya, maka para wanita sebaiknya tidak memiliki sifat
yang dibenci kaum Adam ini.
Ingin tahu sifat seperti apa saja yang dibenci pria dari para wanita, kita lihat dibawah ini: Terlalu sensitif
Wanita yang terlalu sensitif perasaanya membuat pria serba salah.
Jika Anda tipe wanita yang tidak bisa diajak bercanda dan terlalu
sensitif, membuat pasangan Anda atau pria yang sedang melakukan
pendekatan jadi menjauh dari Anda.
Terlalu Pintar
Setiap orang menykai wanita yang cerdas dan mampu menyuarakan
pendapatnya di depan publik. Namun, jika kepercayaan diri si wanita
sudah terlalu besar dapat membuat pria hilang feeling.
Cemburu yang tidak rasional
Cemburu merupakan bumbu dalam suatu hubungan. Namun, jika rasa
cemburu menjadi berlebihan justru akan menjadi bencana. Apalagi jika
setiap lima menit sekali Anda menghubunginya, hal ini akan membuat pria
menjadi tidak nyaman dan berpikir ulang tentang hubungan Anda
bersamanya.
Terlalu materialistis
Ketidaknyamanan terburuk yang dirasakan pria adalah bila
pasangannya terlalu materialistis. Jika Anda ingin tampil cantik depan
pasangan, namun selalu memanfaatkan uang pasangan tentunya Anda tidak
akan dilihat cantik oleh pasangan. Sebaiknya buatlah pasangan terkesan
dengan kemampuan yang Anda miliki bukan keterkaitan dan ketergantungan
Anda dengan uangnya.
Wanita Bergantung
Pria suka dengan wanita yang manja, namun jika sudah berlebihan
pria akan mundur. Bila wanita terlalu bergantung dan ingin selalu dekat
dengan pasangannya, akan membuat pria risih dan takut menjalin hubungan
lebih serius lagi.
So girls, kalau ada diantara kalian yang punya sifat seperti ini
sebaiknya mulai sedikit diubah, bila tidak ingin kehilangan pria yang
kalian sukai dan cintai!
Ghiboo.com - Lekuk tubuh wanita selalu sukses membuat pria terkagum-kagum. Salah satu yang menarik perhatian itu adalah payudara wanita.
Tak heran jika payudara dinobatkan sebagai bagian tubuh terfavorit pria. Berikut ini beberapa alasan mengapa pria menjadi pengagum payudara, dilansir melalui iVillage, Jumat (9/3).
Menenangkan
Ternyata, payudara tak hanya menjadi sumber kehidupan bagi bayi karena menyediakan makanannya, namun payudara juga memberikan efek menenangkan bagi pria. Saat melihat atau menyentuh bagian sensitif wanita itu, pria seakan mengingat pada sosok hangatnya seorang ibu yang selalu memberikan perlindungan.
Lebih Penting dari Wajah
Penelitian dari University of Wellington menunjukkan bahwa 47 persen pria lebih sering menatap payudara wanita dibandingkan melihat wajahnya. Bahkan, waktu untuk menatap payudara lebih lama dibandingkan menatap bagian tubuh lainnya.
Simbol Kesuburan
Apapun ukurannya, bagi kaum adam payudara merupakan simbol kesuburan wanita yang feminin dan menjadi sumber fantasi. Ini jugalah yang menjadi sebab mengapa pria lebih tertarik pada wanita yang telah mengalami fase pubertas dengan bentuk payudara yang sudah mulai terbentuk.
Seleksi Alam
Seperti teori yang dilontarkan Charles Darwin, pria akan lebih memilih wanita yang lebih subur karena mampu memberikan keturunan. Dan payudara menjadi salah satu simbol kesuburan. Bahkan di mata pria, semakin indah dan montok ukuran payudara seorang wanita, maka semakin tinggi tingkat kesuburannya. Sayangnya, anggapan itu salah besar.
Bagian Menggairahkan
Apapun alasannya, payudara dinilai sebagai bagian tubuh yang menggairahkan bagi kaum pria. Begitu pula sebaliknya, hanya menyentuh payudara, lelaki yakin mereka dapat membuat libido wanita meningkat.
Pria Makhluk Visual
Berbeda dengan wanita yang mudah terangsang hanya dengan membaca novel romantis, kaum pria justru membutuhkan rangsangan yang tampak dan nyata. Misalnya, wanita dengan balutan lingerie seksi lebih mudah merangsang pria.
Citra Sosial
Lingkungan sosial ternyata juga menjadi alasan mengapa lelaki begitu terobsesi dengan bagian dada wanita. Cukup dengan membaca majalah yang memperlihatkan keindahan payudara dalam balutan pakaian setengah terbuka, gairah para pria pun dapat dengan mudahnya dipengaruhi.
Bagian Tubuh yang Bikin Penasaran
Menunjukkan bagian intim, seperti payudara wanita, merupakan hal yang dianggap tabu bagi sebagian orang. Payudara dianggap simbol seks dan rangsangan yang kuat bagi lelaki. Semakin dilindungi payudara wanita semakin meningkat keinginan lelaki untuk mengetahuinya.
REPUBLIKA.CO.ID, VATIKAN - Paus Benediktus XVI telah membuat permintaan untuk mengungkap rahasia Alkitab kuno berusia 1500 tahun. Permintaan resmi itu telah disampaikan Vatikan kepada pemerintah Turki, senin (27/2).
Vatikan ingin mengungkap kontroversi Injil ini dengan ajaran dan dogma Kriten juga dibanding injil lain. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay telah mengkonfirmasi permintaan Vatikan ini.
Injil yang ditulis dengan tinta emas ini menggunakan bahasa Aramik, bahasa yang dipercayai digunakan Yesus. Alkitab berusia 1.500 tahun tersebut diduga, adalah Injil Barnabas dan bernilai lebih dari 20 juta dolar AS.
Pemerintah Turki telah menyembunyikan injil ini selama 12 tahun terkahir. Buku itu ditemukan oleh polisi Turki dalam operasi anti-penyelundupan pada tahun 2000 dan terus dijaga selama 10 tahun.
Alkitab ini jauh berbeda dengan empat injil utama Kristen, Markus, Matius, Lukas dan Yohanes. Hal itu dikarenakan, Alkitab ini berisi prediksi kedatangan seorang nabi setelah Isa (Yesus). Dan dianggap inilah ajaran versi asli Injil.
Selain itu, adalah versi yang lebih konsisten dengan keyakinan Islam dari Kristen. Alkitab ini menolak dogma Tritunggal dan Penyaliban. Hal ini juga menggambarkan Yesus menolak Mesias dan mengklaim penerusnya berasal dari keturuan Ismael (Arab).
Pendeta Protestan, Ihsan Oznek membantah keaslian isi Alkitab ini, Dia mengatakan bahwa St. Barnabas hidup pada abad pertama dan merupakan salah satu rasul Yesus, yang berbeda dengan versi Injil ini yang berasal dari abad kelima. Namun menurut, Profesor Teologi, Omer Faruk Harman untuk membuktikan keaslian dan umur dari Alkitab ini adalah dibuktikan dengan scan secara ilmiah.
Kanker saat ini menjadi salah satu penyebab kematian utama didunia dan di Indonesia. Kanker payudara merupakan salah satu jenis penyakit yang ditakuti oleh wanita karena penyakit tersebut dapat menyebabkan hilangnya organ vital wanita. Kanker payudara juga dapat menimbulkan komplikasi yang serius dan bahkan dapat berujung kematian (www.republika.co.id). Di dunia sekitar 7,6 juta (13 %) kematian disebabkan karena kanker,dan faktanya 160 ribu (2,1%) penderita kanker diseluruh dunia adalah anak-anak(www.mediandonesia.com).
Menurut UU Kesehatan No.23 tahun 1992, sehat adalah suatu keadaan sejahtera badan jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi (Mansjoer dkk, 2000). Masalah kematian ibu adalah masalah yang kompleks, meliputi hal-hal non teknis seperti status wanita dan pendidikan (Saifuddin, 2002).
Menurut World Healt Organization (WHO), kanker payudara akan dialami wanita sebanyak 8-9 % dalam hidupnya. Setiap tahun lebih dari 580.000 kasus baru ditemukan diberbagai negara berkembang dan kurang lebih 372.000 pasien meninggal karena penyakit tersebut. Di Eropa terdiagnosis lebih dari 250.000 kasus baru kanker dankurang lebih 175.000 di Amerika. Pada tahun 2000 diperkirakan 1,2 juta wanita terdiagnosis kanker payudara dan lebih dari 700.000 meninggal karena penyakit itu (www.relawannet.com).
Di Indonesia, kanker payudara saat ini termasuk dalam posisi terbanyak kedua sebagai penyebab kanker (www.relawannet.com). Menurut Yayasan Kanker Payudara Jakarta, 10 dari 10.000 penduduk indonesia terkena kanker payudara, 70 % penderita datang kedokter atau rumah sakit pada keadaan stadium lanjut (www.tabloidnova.com).
Seorang wanita mempunyai peluang 7 % mengembangkan kanker payudara, 2,7 % mengembangkan kanker usus, 2,3 % mengembangkan kanker leher rahim. Cara yang paling meyakinkan untuk mengendalikan kanker dan membunuh indung semangnya adalah, mendeteksinya sebelum tumbuh lebih lanjut. Asosiasi kanker Amerika menekankan pentingnya deteksi awal kanker dan menasehati wanita untuk berkonsultasi ke dokter dengan segera jika salah satu gejalanya muncul (Llewellyn,2005).
Tabel 1. Sepuluh bentuk kanker yang paling umum pada kaum wanita dan perkiraan presentase timbulnya (Hardjana, 2000)
No
Jenis Kanker
Prosentase
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Payudara
Usus besar
Dubur
Kulit
Paru-paru
Ovarium
Lambung
Serviks
Pankreas
Rahim
24 %
12 %
12%
10 %
9 %
5 %
4 %
4 %
3 %
3 %
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa kanker payudara menduduki posisi tertinggi dari 10 jenis kanker yang ada.
Penyakit kanker sebenarnya bisa disembuhkan, tetapi masih banyak orang yang tidak menyadari bahwa penyebab tidak terselamatkannya pasien karena keterlambatan mereka memeriksakan diri kedokter (www.tabloidnova.com).
Kanker tidak selalu identik dengan usia lanjut, kewaspadaan kanker terhadap kanker mesti dimulai sejak usia dini. Pakar kanker Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengungkapkan bahwa dari penderita kanker di Indonesia sebanyak 35 % berusia dibawah 40 tahun.“ Jumlah penderita kaker usia muda di Indonesia tersebut jauh lebih besar di banding di Amerika Serikat yang hanya 3 % “ ujarnya. Sedangkan Manajer Terapi Onkologi Roche Indonesia mengungkapkan bahwa dari semua kasus kanker di dunia yaitu sebanyak 40 % dapat dihindari karena dilakukan deteksi sejak dini. Masih banyaknya pasien yang datang terlambat kedokter dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap kanker (www.mediaindonesia.com).
Berdasarkan fenomena diatas, maka sangatlah penting bagi remaja putri untuk mengetahui informasi tentang kanker agar dapat dilakukan deteksisejak dini dan tidak terjadi keterlambatan pasien datang kedokter.
Sejumlah studi memperlihatkan bahwa deteksi kanker payudara dan terapi dini dapat meningkatkan harapan hidup dan memberikan pilihan terapi lebih banyak pada pasien (www.relawannet.com).
Hasil pra survei pada tanggal 18 April 2007, terdapat 238 siswa kelas 2 di SMA Negeri I Gedong Tataan, 143 diantaranya adalah remaja putri. Setelah disebarkan kuesioner kepada 10 (7 %) orang siswi didapatkan hasil pengetahuan siswi kelas 2 tentang kanker payudara, 4 (3 %) orang siswi tergolong dalam kriteria cukup dan 6 (4 %) orangsiswi tergolong dalam kriteria kurang, disamping itu sekolah tersebut blm pernah ada penyuluhan tentang kanker payudara. Maka dari itu penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan remaja putri kelas 2 tentang kanker payudara di SMA Negeri I Gedong Tataan Lampung Selatan.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkanuraian latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu “ Bagaimana gambaran pengetahuan remaja putri tentang kanker payudara di SMA Negeri I Gedong Tataan Lampung Selatan?”
C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup yang diteliti sebagaiberikut :
1.Jenis penelitian:Deskriptif
2.Subyek penelitian:Remaja putri kelas 2 SMA Negeri I Gedong Tataan
Lampung Selatan
3.Obyek penelitian:Pengetahuan remaja putri tentang kanker
payudara
4.Tempat penelitian:SMA Negeri I Gedong Tataan Lampung Selatan
5.Waktu penelitian:11 – 12 Juni 2007
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri kelas 2 tentang kanker payudara di SMA Negeri I Gedong Tataan Lampung Selatan.
2.Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja putri kelas 2 tentang pengertian kanker payudara.
b.Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja putri kelas 2 tentang faktor resiko kanker payudara.
c.Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja putri kelas 2 tentang gejala kanker payudara.
d.Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja putri kelas 2 tentang diagnosa kanker payudara.
e.Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja putri kelas 2 tentang pengobatan kanker payudara.
f.Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja putri kelas 2 tentang pencegahan kanker payudara.
E. Manfaat Penelitian
1.Bagi SMA Negeri I Gedong Tataan Lampung Selatan
Diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai bahan masukan dalam merencanakan kegiatan pendidikan di SMA Negeri I Gedong Tataan Lampung Selatan dengan memasukkan materi tentang kanker payudara dalam konteks intrakulikuler atau ekstrakulikuler yang akan memberikan bekal pengetahuan.
2.Bagi Institusi Program Studi Kebidanan Metro
Sebagai dokumen dan bahan bacaan serta menambah pengetahuan tentang kanker payudara.
3.Bagi Puskesmas Gedong Tataan Lampung Selatan
Diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai perencanaan program puskesmas untuk mengadakan penyuluhan disekolah tersebut.
4.Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan wawasan tentang kanker payudara serta sebagai penerapan ilmu yang telah didapat selama studi..
VIVAnews - Dengan seluruh percakapan tentang “cahaya hijau” perbaikan ekonomi, bank-bank Amerika kini tengah menekan balik sebagai upaya mengatur dirinya sendiri. Ketika politisi berbicara tentang komitmen reformasi pengaturan untuk mencegah terulangnya krisis, ini adalah wilayah di mana iblis masuk dalam detail –dan bank akan memperlihatkan ototnya untuk memastikan mereka memiliki ruang untuk meneruskan perbuatannya di masa lalu.
Sistem lama bekerja baik untuk para bankir (jika tidak untuk pemegang saham), jadi mengapa harus melakukan perubahan memalukan? Lagi pula, upaya penyelamatan atas diri mereka sangat sedikit pasca krisis sistem finansial yang kita butuhkan untuk mengakhiri sebuah sistem perbankan yang kurang kompetitif, dengan bank-bank besar yang semakin besar semakin mudah roboh.
Sudah diketahui secara umum bahwa bank-bank Amerika terlalu besar untuk jatuh dan terlalu besar untuk diatur. Inilah salah satu alasan bahwa performa beberapa dari mereka terlihat lebih suram. Karena pemerintah menyediakan asurasi deposito, ini memainkan peran penting dalam restrukturisasi (tidak seperti sektor lain).
Normalnya, saat sebuah bank gagal, teknokrat di pemerintahan akan melakukan langkah restrukturisasi keuangan; jika tidak menaruh uang, tentu menambah tiang pancang di masa depan. Para pejabat paham jika mereka menunggu terlalu lama, zombi atau bank zombie akan seperti menuju “perjudian atau pemberontakan.” Jika mereka menaruh taruhan terlalu besar dan menang, mereka akan berjalan terus dengan proses ini. Jika mereka gagal pemerintah yang akan mengambil alih.
Ini bukan cuma teori. Ini pelajaran yang kita alami, sebuah pengeluaran besar, selama krisis penyimpanan dan peminjaman pada tahun 1980an. Ketika mesin ATM berkata, “dana tidak efisien,” pemerintah tidak menginginkan arti itu pada bank lebih dari rekening anda, pengeluaran uang, dan pemilik pinjaman menjadi pemegang saham baru. Terkadang, pemerintah harus menyiapkan dana khusus; terkadang mereka mencari investor untuk mengambil alih bank yang gagal.
Pemerintah Obama, biar bagaimana pun, memperkenalkan sebuah konsep baru: terlalu besar untuk melakukan restrukturisasi keuangan. Pemerintah berargumen bahwa semua akan mengalami kerugian seandainya mengikuti aturan biasa untuk menghadapi bank-bank besar. Pasar akan panik. Maka, tak hanya kita tak bisa menyentuh penerima pinjaman, kita juga tak akan mendapat pemegang saham –meski kebanyakan nilai saham yang ada mencerminkan perjudian penghapusan utang dari pemerintah.
Saya pikir ini putusan yang salah. Saya pikir pemerintah Obama mengalah pada tekanan politik dan panik karena kebesaran bank-bank itu. Sebagai hasilnya, pemerintah kebingungan menghapus utang para bankir dan pemilik saham dengan menolong bank tersebut.
Restrukturisasi memberi bank sebuah kesempatan buat awal yang baru: investor baru potensial (meski menggunakan utang sebagai saham) akan memberi kepercayaan lebih, bank-bank lain akan mau memberi pinjaman, dan mereka akan lebih mau memberi pinjamaran pada lainnya. Penerima pinjaman akan mendapat lebih dari arahan restrukturisasi, dan jika nilai aset benar lebih besar dari kepercayaan pasar (dan analisis luar), mereka akan mendapat imbalan.
Namun sudah jelas bahwa strategi Obama sekarang dan di masa depan memakan ongkos sangat tinggi –dan sejauh ini, belum didapat pembatasan tujuan untuk memulai pinjaman. Para pembayar pajak harus mengeluarkan milyaran, dan menjaminkan milyaran dana itu sebagai jaminan --seperti undang-undang baru di masa depan.
Menulis ulang aturan ekonomi pasar –dalam sebuah jalan yang lebih menguntungkan yang menyebabkan lebih banyak luka pada ekonomi secara global- lebih buruk ketimbang pembiayaan secara finansial. Kebanyakan pandangan Amerika tumbuh soal ketidakadilan, khususnya setelah mereka melihat bank-bank menggelapkan milyaran untuk membayar upah di luar bonus dan dividen. Menyobek kontrak sosial adalah sesuatu yang bisa dilakukan secara ringan.
Tapi ini adalah bentuk kapitalisme semu, yang hilang karena sosialisasi dan privatisasi profit, sebuah melapateka kegagalan. Kata insentif telah terdistorsi. Tidak ada lagi disiplin pasar. Bank-bank yang terlalu besar untuk direstrukturisasi tahu mereka bisa berjudi dengan pengampunan –dan, dengan pemberian Federal Reserve dengan tingkat bunga hampir mendekati nol, tetap ada dana yang bisa dipermainkan.
Beberapa orang menyebut hal ini sebagai rejim ekonomi baru “sosialisme dengan karakter Amerika.” Tetapi sosialisme amat peduli pada hak-hak istimewa individu. Sebagai gambaran kontras, Amerika hanya menolong sedikit untuk jutaan penduduk yang kehilangan rumah. Para buruh yang kehilangan pekerjaan hanya menerima 39 pekan dana tunjangan, dan mereka harus bisa berusaha sendiri. Dan, ketika mereka kehilangan pekerjaan, kebanyakan dari mereka juga kehilangan asuransi kesehatan.
Amerika tengah memperluas jaminan keamanan perusahaan melalui jalan yang tak pernah diduga, dari komersial bank ke bank investasi, lalu ke asuransi, dan sekarang ke perusahaan otomotif, tanpa berupaya melihat sedikit pun. Bila bicara kebenaran, ini bukan sosialisme namun perluasan masa hidup perusahaan sejahtera. Kaum kaya dan berkuasa kini membutuhkan bantuan pemerintah, padahal banyak orang hanya mendapat sedikit perlindungan sosial.
Kita harus menghentikan bank-bank yang terlalu besar untuk gagal; tidak ada bukti nyata mereka memberi keuntungan sosial dalam ongkos perlakuan yang mereka perbuat. Dan jika kita tidak berhenti menolong mereka, kita kemudian tak punya batasan untuk terus menolong. Mereka tidak bisa dibiarkan untuk melakukan perbuatan di masa lalu –berjudi untuk sejumlah pengeluaran.
Problem lain akan muncul dengan bank-bank terlalu besar untuk gagal, atau bank-bank yang terlalu besar untuk direstrukturisasi: di sini secara politik mereka terlalu kuat. Upaya lobi mereka bekerja dengan baik, pertama untuk membuat deregulasi, dan kemudian memiliki uang pembayar pajak untuk dimainkan. Mereka berharap hal ini akan bekerja kembali sehingga membuat mereka bebas seperti sebelumnya, tanpa mempertimbangkan resiko pada pembayar pajak dan dunia ekonomi. Jelas, kita tak bisa berdiam diri membiarkan hal itu terjadi.
Joseph E. Stiglitz, Professor Ekonomi di Columbia University, Ketua Komisi Ahli yang bertanggungjawab pada Ketua Umum PBB untuk reformasi keuangan internasional dan sistem finansial. Penulis buku Making Globalization Work. Hak cipta ada pada www.projectsyndicate.org
• VIVAnews
VIVAnews - Mari menduga bahwa pendapat Geert Wilders, politikus berkebangsaan Belanda yang meyakini bahwa Eropa tengah mengalami "tahapan akhir Islamisasi", benar adanya: Anders Breivik, pembantai dari daratan Norwegia itu, gila. Wilders berkicau lewat akun Twitter miliknya: "Bahwa seorang psikopat telah mencederai perjuangan melawan Islamisasi adalah sesuatu yang menjijikkan serta menjadi tamparan bagi pergerakan anti Islam di seluruh dunia."
Asumsi itu bisa salah. Menjagal lebih dari 60 remaja tak berdosa di sebuah acara kumpul-kumpul dengan senapan serbu setelah meledakkan kompleks pemerintahan di pusat kota Oslo merupakan tindakan yang ganjil secara moral, untuk menyebutnya secara halus. Tentunya, orang waras tak pernah terpikir melakukan tindakan seperti itu.
Hal yang sama berlaku pula bagi sekelompok pemuda yang memutuskan bunuh diri dan melakukan pembunuhan massal dengan cara menabrakkan pesawat komersil ke beberapa bangunan di New York dan Washington, Amerika Serikat. Namun, baik Breivik maupun para teroris dalam aksi 11 September 2001, tidak melakukan pembunuhan tanpa alasan - tak seperti yang dilakukan oleh para nihilis di Amerika yang menembaki orang tanpa alasan. Para fundamentalis Islam memandang aksi mereka sebagai sebuah taktik di tengah jihad menumpas orang-orang berakhlak rendah, kaum Barat yang berdosa.
Breivik membayangkan dirinya menjelma seorang ksatria bagi pihak lain. Ia bertujuan melindungi Barat dari Islamisasi. Musuhnya tak hanya kaum Muslim tapi juga para elit liberal Barat serta anak-cucu mereka yang mengancurkan Eropa lewat paham "multikulturalisme" dan "Marxisme kultural."
Bahkan, hal yang Breivik tuliskan sebagai manifesto - berjudul Dekalarasi Kemerdekaan Eropa - lebih-kurangnya telah kerap dibicarakan oleh kaum populis macam Geert Wilders. Tentu saja manifesto itu memuat hal lain, seperti fantasi tentang kebangkitan Ksatria Templar. Ada seorang politikus sayap-kanan Eropa yang siap membela Breivik. Ia adalah Francesco Speroni, anggota Partai Liga Utara, Italia, bagian dari pemerintahan Silvio Berlusconi. Speroni menyatakan bahwa gagasan-gagasan Breivik bertujuan "melindungi peradaban Barat."
Jadi, seberapa serius sebenarnya kita mesti menanggapi alasan yang dipakai oleh para pembantai seperti Breivik dan teroris 11 September dalam melangsungkan aksi mereka?
Beberapa tahun lalu, seorang penulis Jerman bernama Hans Magnus Enzensberger dalam esainya menulis tentang "pecundang radikal." Ia merujuk kepada anak-anak muda yang emosinya mudah tersulut oleh lemahnya harkat sosial, ekonomi serta seksual mereka sendiri, pun sikap masa bodoh lingkungan sekitar mereka. Itu sebabnya mereka merindukan tindakan bunuh diri yang punya daya hancur besar.
Tindakan itu dapat dipicu oleh apapun. Contohnya, cinta tak bersambut; kehilangan pekerjaan; atau tak lulus ujian. Kadang, para pembantai itu punya pembenaran ideologis: menegakkan Islam yang murni, berjuang demi komunisme atau fasisme, atau menyelamatkan Barat. Ideal semacam itu mungkin tak penting. Sekali si pecundang punya hasrat membunuh, segala hal bisa jadi alasan.
Mungkin saja.
Tapi, apa sama sekali tak ada simpul yang menghubungkan pandangan para fundamentalis atau politikus di atas dengan aksi-aksi yang dilakukan atas nama pendapat semacam? Karena kini Wilders tengah jadi bulan-bulanan, dan Breivik mengaku bahwa ia mengaguminya, aksi seorang pembantai sakit jiwa semestinya tak dipakai guna mendiskreditkan pandangan Wilders. Lagi pula, tak ada yang tak masuk akal dengan klaim yang menyatakan bahwa multikulturalisme mengandung cela; atau bahwa Islam menentang pandangan Eropa Barat atas persamaan gender atau hak bagi kaum homeseksual; atau bahwa imigrasi massal akan memungkinkan konflik sosial yang gawat.
Klaim-klaim sedemikian mulai diembuskan oleh kaum konservatif yang dihormati, bahkan kaum sosial demokrat, pada tahun 1990an. Mereka bereaksi terhadap sistem liberal yang cenderung menyingkirkan segala kritik tentang imigrasi atau kepercayaan non-Barat serta tradisi sebagai bentuk rasisme dan fanatisme.
Namun, sementara membicarakan konsekuensi sosial dari imigrasi besar-besaran yang berlangsung dari negara-negara Islam bukanlah sesuatu yang salah, beberapa kaum populis di Belanda, Denmark, Perancis, Jerman, Belgia, Inggris, dan negara lain, bertolak lebuh jauh. Wilders, khususnya, gemar mendengungkan istilah "cahaya Eropa mulai meredup" dan "kelangsungan Barat yang nyata." Masalahnya tak hanya pada adanya sebentuk Islam revolusioner, namun juga Islam itu sendiri: "Jika kita ingin mencari bandingan bagi Islam, berpalinglah pada komunisme atau sosialisme nasional - ideologi totaliter."
Ini adalah ekspresi perang eksistensial, dari sisi yang berbahaya. Tapi, kosa kata dari masa Perang Dunia Kedua memang tengah digembar-gemborkan. Pihak-pihak yang menentang kebencian atas semua bentuk Islam disebut "juru damai", atau "kolaborator" atau "fasisme Islam." Bagi beberapa kalangan, tragedi 11 September 2001 tak berbeda dengan insiden 1938, atau 1940. Kelangsungan peradaban Barat dalam bahaya. Apakah sebuah hal yang mengejutkan jika ada pihak yang menyalahartikan retorik ini sebagai
Yang pasti, baik Geert Wilders atau narablog anti-Islam di AS seperti Scott Spencer dan Pamela Geller (keduanya sering disebut-sebut dalam manifesto Breivik) tak manganjurkan kekerasan fisik. Namun, tulisan-tulisan dan pernyataan mereka telah mampu memicu orang lain bersikap berat sebelah. Penafsiran Breivik atas pernyataan-pernyataan mereka kiranya lebih masuk akal dari gagasan bahwa kata-kata belaka dapat menyelamatan kelangsungan kita.
--
Ian Buruma adalah Guru Besar Demokrasi dan Hak Asasi Manusia di Bard College, serta Penulis "Taming the Gods: Religion and Democracy on Three Continents."
Artikel ini diterjemahkan dari www.project-syndicate.org
• VIVAnews
VIVAnews - Peristiwa 11 September 2001, yang dikenal dengan Tragedi 9/11, merupakan ulah Al-Qaeda untuk mencederai Amerika Serikat. Tentu saja, niat itu berhasil. Namun, Osama bin Laden tak pernah membayangkan efeknya. Reaksi Presiden AS ketika itu, George W. Bush, menodai prinsip dasar negeri Paman Sam, menggerogoti perekonomian bangsa itu, serta melemahkan keamanan.
Serbuan ke Afghanistan pasca serangan teroris masih bisa dipahami. Tapi, invasi ke Irak sungguh tak ada kaitannya dengan Al-Qaeda - bagaimanapun kerasnya Bush berupaya mencari-cari hubungannya. Kemudian, perang AS melawan Irak menjadi amat mahal - yang pada awalnya membutuhkan lebih dari US$60 miliar (Rp551,5 triliun).
Ketika saya dan Linda Bilmes menghitung biaya perang yang mesti dikeluarkan AS tiga tahun lalu, angka kasar berada di kisaran US$3-5 triliun. Sejak itu, anggaran kian meningkat. Dengan nyaris 50 persen jumlah tentara yang kembali dan bisa menerima santunan cacat tubuh dan lebih dari 600 ribu veteran yang menjalani perawatan medis, kami menduga bahwa uang bagi tentara yang cacat dan biaya kesehatan akan mencapai sekitar US$600-900 miliar.
Di luar itu, biaya sosial yang muncul seperti tindakan bunuh diri yang diambil oleh para veteran perang (yang beberapa tahun belakangan menyentuh 18 kejadian per hari) dan retaknya rumah tangga tak bisa dihitung secara pasti.
Bahkan, jika Bush mendapatkan maaf atas jasanya menyertakan AS dan negara-negara lain dalam perak melawan Irak, tak ada ampun bagi Bush atas cara yang ia pilih untuk membiayai perang. Sepanjang sejarah, perang Bush itu adalah satu-satunya yang dibiayai sepenuhnya dari pinjaman. Pada saat AS tengah berperang, dengan defisit yang kian meningkat setelah pemotongan pajak di tahun 2001, Bush memutuskan bahwa golongan kaya di negeri itu pantas mendapatkan keringanan pajak.
Hari-hari ini, AS tengah berkutat dengan pengangguran dan defisit. Ancaman yang bisa menjatuhkan AS di masa mendatang dapat dilacak hingga perang di Afghanistan dan Irak. Melonjaknya belanja pertahanan, bersamaan dengan pemotongan pajak, merupakan faktor kunci yang menguak penyebab mengapa AS beringsut dari yang mulanya mencetak keuntungan fiskal hingga 2 persen dari PDB ketika Bush terpilih menjadi dirongrong utang. Belanja langsung pemerintah untuk kedua perang itu mencapai kira-kira US$2 triliun - US$17.000 per keluarga.
Selain itu, saya dan Bilmes menegaskan dalam buku kami yang berjudul "The Three Million Dollar War" (Perang Tiga Juta Dolar) bahwa perang di Afghanistan dan Irak telah melemahkan ekonomi makro AS dan memperuncing defisit serta utang. Kini, gejolak di Timur Tengah memicu membubungnya harga minyak. Bangsa Amerika dituntut mengeluarkan uang lebih banyak demi mengimpor minyak. Padahal, mereka bisa memakai uang itu untuk membeli lebih banyak produk domestik.
Namun, Bank Sentral AS (Federal Reserve) menyembunyikan keburukan itu dengan menciptakan gelembung kredit perumahan yang akhirnya mendorong ledakan konsumsi. Butuh bertahun-tahun untuk mengatasi masalah itu. Kacau Balau
Ironisnya, perang itu telah bikin keamanan AS (dan dunia) kacau-balau lagi-lagi dengan cara yang tak pernah dibayangkan oleh Bin Laden. Perang yang tak populer akan menyulitkan perekrutan tentara. Tapi, selagi Bush mencoba mengakali Amerika tentang biaya perang, ia tak memberikan sokongan dana cukup bagi para prajurit.
Ia menolak memberikan pengeluaran standar yang dibutuhkan untuk, misalnya, kendaraan lapis baja yang anti-ranjau guna melindungi pasukan. Atau, setidakya, menyediakan cukup tunjangan kesehatan bagi para veteran. Ada pengadilan di AS yang baru-baru ini menyatakan bahwa hak-hak para veteran telah dilanggar. (Hebatnya, pemerintahan Obama meminta bahwa hak veteran mengajukan banding mesti dibatasi!)
Kegagalan militer telah memunculkan kecemasan atas penggunaan kekuatan militer. Dan hal ini cenderung mengancam keamanan Amerika. Namun, kekuatan Amerika yang sejati adalah, melebihi ketangguhan militer dan ekonomi, kekuatan lunaknya: otoritas moral.
Dan, yang satu itu pun telah dilemahkan: seketika setelah AS melanggar hak asasi manusia yang mendasar seperti hak untuk tak mengalami siksaan, dunia sontak mempertanyakan komitmennya kepada hukum internasional.
Di Afghanistan dan Irak, AS dan sekutu-sekutunya tahu bahwa untuk mendapatkan kemenangan jangka panjang, hati dan pikiran harus dicuri. Namun, kesalahan demi kesalahan yang dilakukan pada awal perang memperumit perang yang telah pelik itu.
Efek samping yang ditimbulkannya dahsyat: lebih dari satu juta warga Irak tewas, langsung atau tak langsung, akibat perang. Menurut beberapa kajian, sekitar 137.000 warga sipil tewas dengan mengenaskan di Irak dan Afghanistan dalam 10 tahun terakhir. Di antara bangsa Irak sendiri, 1,8 juta pengungsi mencari tempat aman dan 1,7 juta lainnya kehilangan tempat tinggal.
Tak semua konsekuensi berujung bencana. Defisit yang dialami Amerika agaknya akan menimbulkan kendala anggaran. Belanja militer AS nyaris menyamai belanja militer dunia jika disatukan dua dekade setelah era Perang Dingin berakhir.
Beberapa peningkatan belanja anggaran ditujukan ke Irak, Afghanistan dan Perang Global Melawan Terorisme. Namun, banyak dana yang terbuang sia-sia demi senjata akan dipakai untuk membinasakan musuh, yang jelas-jelas tak ada. Kini, dana itu akan didistribusikan ulang, dan AS kiranya akan mengeluarkan biaya lebih kecil untuk mengusahakan keamanan dalam negerinya.
Al-Qaeda tak lagi jadi menyembul jadi ancaman besar setelah peristiwa 11 September 10 tahun silam. Namun, harga yang harus dibayar begitu besar. Kita akan hidup dengan warisan yang ditinggalkannya dalam waktu lama. Berpikir sebelum bertindak memang ternyata penting.
--
Joseph E. Stiglitz adalah Profesor di Columbia University, peraih Nobel di bidang ekonomi, serta pengarang "Freefall: Free Markets and the Sinking of the Global Economy".
Artikel ini diterjemahkan dari laman www.project-syndicate.org
• VIVAnews
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Serangan teror Alqaidah ke menara kembar
WTC di Manhattan AS memicu banyak teori konspirasi. Berikut 9 konspirasi
yang ditimbulkan oleh serangan dahsyat yang menewaskan sekitar 3.000
orang tersebut. 1. AS Sudah Mengetahui Akan Diserang
Presiden
AS saat itu, George W Bush mengatakan bahwa tidak ada seseorang pun di
pemerintahannya yang membayangkan negara superpower itu bakal diserang
lewat pesawat yang menubruk gedung pencakar langit. Namun beberapa
pekan sebelumnya, ketika Bush dan sejumlah pemimpin G8 di Genoa, Italia,
sudah memperhitungkan skenario tersebut. Mereka menempatkan misil
antipesawat di dekat tempat pertemuan. Sebelumnya, Italia mendapat
ancaman akan diserang lewat pesawat. 2. WTC Runtuh Karena Bahan Peledak
Sejumlah
fisikawan maupun penggemar teori konspirasi dan pakar teknik sipil
percaya gedung WTC diledakkan dari dalam. Bukan karena semata ditubruk
pesawat. Ini berasal dari teknik bangunan WTC yang tertanam kokoh tapi
hancur hingga ke dasar. Menurut mereka, ada sejumlah besar bahan peledak
disimpan di WTC di tempat-tempat strategis. 3. Pialang Saham Berperan
Sebelum
9/11 memang ada aksi pasar saham yang memberi dampak cukup luas. Misal:
saham United Airlines dan American Airlines yang pesawatnya dibajak,
saham mereka dilepas cukup besar sebelum 9/11. Sementara perusahaan
keamanan, di sisi lain yang bakal meraup untung pascaserangan WTC, juga
mengalami kebanjiran order saham. Saham Morgan Stanley, yang berkantor
di WTC juga mengalami aksi jual besar-besaran. 4. Pesawat Sebenarnya Bisa Ditembak
NORAD
(Komando Pertahanan Amerika Utara) seharusnya mampu menembak
pesawat-pesawat yang dibajak atau mampu menghalau pesawat itu mendekati
targetnya. Namun NORAD tidak melakukan hal ini dan mereka terlambat
mengetahui ada pembajakan pesawat. 5. Pesawat di Pentagon
Teori
lainnya mengatakan Pentagon tidak diserang oleh pesawat American
Airlines Flight 77. Argumentasinya, Petagon adalah gedung paling aman di
dunia, memiliki ribuan kamera pengintai. Tapi tidak ada satupun kamera
yang menangkap pesawat bakal menghantam Pentagon. Teori konspirasi
menghubungkan serangan Pentagon dengan adanya oknum AS yang menembakkan
misil ke markas Dephan itu. 6. Kotak Hitam
Setiap
pesawat memiliki dua kotak hitam yang menyimpan informasi penerbangan.
Anehnya, tidak ada satupun kotak hitam dari dua pesawat yang menghantam
gedung WTC. Namun belakangan, para pekerja yang membersihkan sisa sisa
WTC mengatakan mereka menolong agen federal mengambil tiga dari empat
kotak hitam di sana. Dan kotak hitam di Pentagon pun diklaim sudah
sangat rusak untuk dibaca. Kotak hitam yang bisa dibaca umum hanyalah
dari United 93 yang jatuh di Pennsylvania. 7. Aksi CIA dan Mossad
Mantan
presiden Italia ikut memberi teori konspirasi. Menurut dia, ada
informasi dari kaum kiri Italia yang menyatakan CIA dan Mossad ada di
belakang serangan WTC. Sehingga mereka menjadikan Islam dan Muslim
sebagai kambing hitam. Bahkan lembaga intelejen Pakistan Inter-Service
Intelligence mengklaim tahu ada rencana tersebut. 8. Bukan Pesawat, Tapi Misil
Dengan
asumsi badan pesawat terbuat dari alumnium yang kekuatannya rendah
untuk meruntuhkan WTC, maka ada sejumlah pihak yang menilai
jangan-jangan bukan pesawat yang menabrak WTC tapi sebuah misil dengan
efek hologram menyerupai pesawat. Teori ini didukung dari analisis frame
per frame siaran tabrakan itu yang menunjukkan bentuk pesawat lebih
menyerupai selongsong cerutu yang lonjong 9. Demi Minyak
Menghancurkan
WTC akan membuka jalan bagi negara-negara barat untuk menguasai
aset-aset minyak di Timur Tengah. Penggemar teori konspirasi yakin para
perusahaan minyak raksasa memiliki sumber daya untuk membuat serangan
tersebut.